Sawah riwayatmu kini

DSC03899
persawahan yang mulai menguning

Rasanya hidup tidak punya beban and hutang kalau melihat persawahan yang  hijau aduuuuuh mantapnya 🙂

Rasanya begitu nyaman,  menikmati persawahan yang hijau terbentang, apa lagi di tambah angin sepoy sepoy dan menikmati secangkir air teh hangat amboy mantap betul hidup ini.  Setiap kali akan pulang dan berangkat kerja aku selalu mencari jalan tikus  😀 hanya untuk menghindari kemacetan, untuk mencapai pusat kota Yogyakarta yang sangat padat .  Harap maklum rumah saya di atas gunung tepatnya 20 km dari atas GUNUNG MERAPI dan 9 km dari pusat kota yogyakarta.

pic pinjam peta yogya
pic pinjam peta yogya

 

Senangnya kalau setiap berangkat kerja and pulang kerja pasti selalu di sapa dengan hamparan persawahan yang hijau bahkan ada sebagian yang mulai menguning senangnya ,  Berangkat jadi semangat pulang kerja cuapek rasanya jadi rileks kalau liat sawah ( LEBAAAAAAAAY……!!! ) 😀

gambar sawah yang mulai menguning
gambar sawah yang mulai menguning
para petani yang mulai panen
para petani yang mulai panen

Kadang berpikir sampai kapan persawahan ini akan bisa bertahan dan hilang berganti dengan permukiman warga. Bahkan saya sudah 5 tahun melewati jalan ini, sampai saya  hafal betul setiap ruas  jalanya ada yang berlubangpun pun hafal.  Selama 5 tahun itu juga banyak sekali perubahanya yang membuat saya sedih 😦

Tiba tiba sawah sawah yang hijau itu sedikit berubah menjadi tamdus lalu banyak truk truk bermuatan beton yang menyulap persawahan menjadi komplek komplek perumahan yang harganya seEMBER – EMBER, bener bener seember harganya  dan semua sold out gila bener.

Pemasaran perumahan itu menawarkan kepada pembeli dengan embel – embel  memberi kenyamanan plus  dengan view GUNUNG MERAPI yang kece,  bahkan ada beberapa menjadi home stay ehmmm…..!!!!

ini salah satu rumah yang harganya bikin tepok jidat
ini salah satu rumah yang harganya bikin tepok jidat

Sampai  kapan persawahan ini akan bertahan dan tidak beralih fungsi. Hanya  waktu yang bisa menjawabnya…?

 

//

Iklan

15 thoughts on “Sawah riwayatmu kini

  1. Seharusnya ada pihak yang mengatur ya. Bagaimanapun pertanian kan penting untuk menghasilkan bahan makanan. Lah kalau sawahnya terus digunduli lama-lama nggak ada lahan untuk menanam bahan makanan dong…

    1. harusnya ko, tapi lahan pertanian belakang rumah aku memang tidak boleh di buat jadi lahan huni karena buat serapan air.
      tapi kalau yang yogya bawah banyak yang sudah alih fungsi 😦

    1. iya mas padahal aku tinggal di perumahanjuga 😀 tapi jadi miris lihatnya kalau semua lahan pertanian jadi rumah. Tapi persawahan belakang komplek aku tidak boleh di ganggu gugat karena itu buat daerah resapan, padahal mau di bangun RS namun tidak dapat izin.
      alhamdulilah, mana merapi sering batuk parah kan

  2. Sedih ya… 😦

    Padahal negara qta ini bikin banyak iri lho karena tanah dan cuaca qta bagus banget untuk bercocok tanaman. Istilahnya di dekat lumpur aja tumbuh bunga cantik.
    Surga banget dech buat tanaman. Tapi manusia yang maruk duit ini mau nya semua di ambil dan dijual untuk hal yg mrusak alam. 😦

    Btw salam kenal ya… baru mampir di blog ini setelah bw. 🙂

    1. hi kezia thx udah mampir ini blog juga masih baru, belum 1 bulan, aku tunggu juga cerita kamu aku pasti mampir ke blog kamu.

      iya nie ke, kadang miris juga tapi mau giman lagi pertumbuhan manusianya yang udah berjibun butuh ruang tinggal. jadi jangan salahkan alam kalu tiba tiba banjir karena daya serapnya sudah sempit ke tutup beton beton dan semen.

  3. Memang di negara kita ini aneh ya, sawah dan hutan dibabat terus dijadikan bangunan, sekalinya sudah kebanjiran dan paceklik trus nyalahin alam. Padahal yang ngerusak alam siapa tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s